![]() |
| Menjaga Keikhlasan: Lebih Sulit dari Mengerjakan Amal |
Peringatan ke -16
Menjaga Keikhlasan: Lebih Sulit dari Mengerjakan Amal
١٦ - قال الفقيه - رحمه الله -: أخبرني الثقة بإسناده عن جبلة اليحصبي قال: كنا في غزوة مع عبد الملك بن مروان، فصحبنا رجل مسهار لا ينام من الليل إلا أقله. فمكثنا أياما لا نعرفه، ثم عرفناه، فإذا هو رجل من أصحاب رسول الله ﷺ، وكان فيما حدثنا أن قائلًا من المسلمين قال:
Al-Faqih menuturkan dari seseorang yang terpercaya dengan. sanad dari Jaballah Al-Yahshubi, ia berkata, "Kami berada dalam suatu peperangan bersama Abdul Malik bin Marwan, kemudian kami bertemu dengan seseorang yang suka bangun malam. Berhari-hari kami berkumpul, namun tidak mengenal siapakah dia sebenarnya. Kemudian suatu saat kami mengetahui bahwa dia termasuk salah seorang di antara para sahabat Rasulullah ﷺ yang bertanya,
يا رسول الله فيم النجاة غدًا؟ قال: «أَلَّا تخادعَ الله»
'Wahai Rasulullah, dengan perbuatan apa kita nanti bisa selamat?' Beliau bersabda, 'Hendaknya kamu jangan menipu Allah.
قال: وكيف نخادع الله؟ قال: «أن تعمل بما أمرك الله، وتريد به غير وجه الله. واتقوا الرياء فإنه الشرك بالله، وإن المرائي يُنَادَى يوم القيامة على رؤوس الخلائق بأربعة أسماء:
Ia bertanya lagi, 'Bagaimana mungkin kami bisa menipu Allah?' Beliau bersabda, 'Kamu mengerjakan sesuatu yang diperintahkan oleh Allah namun dengan amal itu kamu menghendaki selain Allah (bukan karena Allah). Jauhilah riya, karena riya berarti menyekutukan Allah. Pada hari kiamat orang yang riya itu akan dipanggil di hadapan makhluk dengan empat panggilan yaitu:
يا كافر، یا فاجر، یا غادر، یا خاسر، ضل عملك وبطل أجرك، فلا خَلَاقَ لك اليوم، فالتمس أجرك ممن كنت تعمل له يا مخادع» قال: قلت له: بالله الذي لا إله إلا هو؛ أنت سمعت هذا من رسول الله ﷺ؟
'Hai orang kafir, hai orang jahat, hai orang yang menipu, dan hai orang yang rugi, amalmu sesat dan pahalamu lenyap. Saat ini kamu tidak akan mendapatkan apa-apa. Mintalah balasan amalmu kepada orang yang dulu kamu beramal karenanya, wahai orang yang menipu.' Jaballah berkata, 'Saya bertanya kepada orang itu, 'Demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, apakah benar kamu mendengar hal ini dari Rasulullah ﷺ?'
فقال: والله الذي لا إله إلا هو إني سمعته من رسول الله ﷺ، إلا أن أكون قد أخطأتُ شيئًا لم أكن أتعمّده، ثم قرأ:
Orang itu menjawab, 'Demi Allah yang tidak ada tuhan kecuali Dia, sungguh saya mendengarnya dari Rasulullah ﷺ Jika ada sedikit kesalahan, maka hal itu tidak saya sengaja." Kemudian ia membaca ayat:
﴿إِنَّ المُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ﴾ [النساء:١٤٢].١
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka." (QS. An-Nisa: 142)
قال الفقيه - رحمه الله تعالى -: من أراد أن يجد ثواب عمله في الآخرة ينبغي له أن يكون عمله خالصًا الله تعالى، بغير رياء، ثم ينسى ذلك العمل لكيلا يبطله العجب، لأنه يقال: حفظ الطاعة أشد من فعلها.
Al-Faqih berkata, "Barangsiapa di akhirat ingin mendapatkan pahala amalnya, maka hendaknya amalnya itu benar-benar ikhlas karena Allah tanpa ada rasa riya (pamer) dan melupakan amalnya itu supaya rasa ujub tidak menghilangkan pahala amal itu, karena sebagaimana dikatakan, bahwa menjaga ibadah itu lebih sulit daripada mengerjakannya."
وقال أبو بكر الواسطي٢: حفظ الطاعة أشد من فعلها؛ لأن مثلها كمثل الزجاج سريع الكسر، ولا يقبل الجبر،
Abu Bakar Al-Wasithi berkata, "Menjaga ibadah itu lebih sulit daripada mengerjakannya, karena ibadah seperti kaca yang mudah pecah dan tidak bisa ditambal atau dipatri.
[كذلك العمل]٣ إن مسه الرياء كسره، وإن مسه العجب كسره، وإذا أراد الرجل أن يعمل عملًا وخاف الرياء من نفسه، فإن أمكنه أن يخرج الرياء من قلبه، فينبغي له أن يجتهدَ في ذلك. وإن لم يمكنه فينبغي أن يعملَ ولا يترك العملَ لأجل الرياء، ثم يستغفر الله تعالى مما فعل من الرياء، فلعل الله تعالى أن يوفقه للإخلاص في عمل آخر٤.
Demikian juga amal, bila tersentuh riya maka akan pecah, dan bila tersentuh ujub juga akan pecah. Apabila seseorang hendak mengerjakan suatu amal dan ia khawatir akan adanya riya pada dirinya, kalau bisa hendaknya ia menghilangkan riya dalam hatinya.
Namun, jika hal itu tidak mungkin, maka hendaknya ia tetap mengerjakan amal tersebut, meskipun ada perasaan riya, kemudian mohon ampun kepada Allah atas perasaan riya itu, dengan harapan Allah memberikan pertolongan untuk ikhlas pada amal perbuatan berikutnya."
ويقال في المثل: إن الدنيا خربت منذ مات المراؤون؛ لأنهم كانوا يعملون أعمال البر١، مثل الرباطات والقناطر والمساجد فكان للناس فيها منفعة، وإن كانت للرياء، فربما ينفعه دعاء أحد من المسلمين.
Dalam hal ini ada yang mengatakan dalam sebuah peribahasa, bahwa mungkin dunia akan rusak dengan matinya orang-orang yang riya. Sebab, meskipun mereka mengerjakan amal-amal kebaikan seperti mendirikan pondok-pondok pesantren (arribath), bangunan-bangunan untuk kepentingan umum, dan mesjid-mesjid di mana orang bisa mengambil manfaat darinya, karena riya, namun barangkali ada doa kaum muslimin yang menggunakan tempat itu.
كما روي عن بعض المتقدمين أنه بنى رباطًا، وكان يقول في نفسه: لا أدري أكان عملي هذا الله تعالى أم لا؟ فأتاه آتٍ في منامه، فقال له: إن لم يكن عملك الله تعالى، فدعاء المسلمين الذي يدعون لك هو الله، فسُرَّ بذلك.
Sebagaimana diriwayatkan dari sementara ulama terdahulu, bahwa ia membangun sebuah pondok pesantren dan ia berkata pada dirinya sendiri, "Saya tidak tahu, apakah amal saya ini ikhlas karena Allah atau tidak," kemudian ia mimpi didatangi oleh seseorang yang mengatakan kepadanya, "Apabila amalmu itu bukan karena Allah, maka dengan doa orang-orang muslim yang mendoakan kamu dan doa-doanya itu ikhlas karena Allah, kamu bisa memperoleh kebahagiaan."
وقال رجل عند حذيفة بن اليمان: اللهم أهلك المنافقين، فقال حذيفة: لو هلكوا ما انتصفتم من عدوكم. يعني أنهم يخرجون إلى الغزو، ويقاتلون العدو.
Ada seseorang berdoa di dekat Hudzaifah bin Al-Yaman, "Wahai Allah, hancurkanlah orang-orang munafik." Kemudian Hudzaifah berkata, "Seandainya mereka binasa, niscaya kamu tidak bisa menahan musuh-musuhmu." Maksudnya, karena mereka pun ikut keluar ke medan perang dan memerangi musuh kaum muslimin.
وروي عن سلمان الفارسي - رضي الله عنه - قال: يؤيد الله المؤمنين بقوة المنافقين، وينصر المنافقين بدعوة المؤمنين.
Diriwayatkan dari Salman Al-Farisi Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, "Allah memperkokoh kaum muslimin dengan kuatnya orang- orang munafik, dan Allah menolong orang-orang munafik berkat doanya kaum muslimin."
قال الفقيه - رحمه الله -: تكلّم الناس في الفرائض، فقال بعضهم: لا يدخل الرياء فيها؛ لأنها فريضة على جميع الخلق، فإذا أدى ما هو فرض عليه لا يدخل فيه الرياء.
Al-Faqih berkata, "Orang-orang membicarakan pekerjaan- pekerjaan yang wajib. Sebagian di antara mereka berpendapat bahwa riya itu tidak bisa masuk ke dalam perbuatan yang wajib, karena pekerjaan itu memang diwajibkan atas semua makhluk.
وقال بعضهم: يدخل الرياء في الفرائض وغيرها.
Namun, sebagian yang lain berpendapat, bahwa riya itu bisa saja masuk ke dalam amal perbuatan yang wajib maupun amal perbuatan yang lain."
وفال الفقيه: هذا عندي على وجهين: إن كان يؤدي الفرائض رئاء الناس، ولو لم يكن رئاء الناس لكان لا يؤديها، فهذا منافق تام، وهو من الذين قال الله تعالى فيهم:
Al-Faqih berpendapat, bahwa hal itu terdiri atas dua sisi. Pertama, apabila seseorang mengerjakan amal perbuatan yang wajib karena riya, di mana seandainya bukan karena riya ia tidak akan mengerjakannya, maka ia benar-benar orang munafik. Orang semacam itulah yang disinyalir oleh Allah melalui firman-Nya:
﴿إِنَّ الْمَنَافِقِينَ في الدَّرْكِ الْأسْفَلِ مِنَ النَّارِ﴾ [النساء:١٤٥]
"Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka." (QS. An-Nisa: 145)
يعني في الهاوية مع آل فرعون، لأنه لو كان توحيدُه صحيحًا خالصًا لكان لا يمنعه عن أداء الفرائض.
Maksudnya, mereka akan ditempatkan di neraka Hawiyah bersama-sama dengan keluarga Fir'aun. Sebab, seandainya tauhidnya benar dan mempunyai rasa ikhlas, niscaya ia tidak akan enggan untuk mengerjakan kewajiban-kewajibannya.
وإن كان يؤدّي الفرائض إلا أنه يؤدّيها عند الناس أحسن وأتمّ، وإن لم يره أحد يؤدّيها ناقصة، فله الثوابُ الناقص، ولا ثوابَ لتلك الزيادة، وهو مسؤول عنها محاسب عليها.
Kedua, apabila seseorang mengerjakan amal perbuatan yang wajib, di mana apabila diketahui orang lain ia akan mengerjakannya dengan sempurna dan jika tidak diketahui orang lain ia akan mengerjakannya dengan kurang sempurna, maka dia tidak akan diberi pahala dari amalannya yang sempurna yang ia kerjakan karena ada orang lain. Bahkan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya yang karena orang lain tersebut dan amalnya akan diperhitungkan sesuai dengan niatnya.[]
١ رواه أحمد بن منيع في مسنده بسند ضعيف. (الدر المنثور ٧٤/١ - ٧٥).
٢ هو محمد بن موسى الواسطي، أصله من فَرْغَانة، كورة واسعة بما وراء النهر، متاخمة لبلاد تركستان، وكان يُعرف بابن الفَرْغَاني. وهو من قدماء أصحاب الجُنَيْد وأبي الحسين النُّوري. وهو من علماء مشايخ الصوفية، ولم يتكلَّم أحد في أصول التصوف مثل ما تكلم هو، وكان عالمًا بالأصول وعلوم الظاهر. توفي بعد (۳۲۰هـ). (طبقات الصوفية ص ۳۰۲)، و(الحلية ٣٤٩/١٠).
٣ من (م) و(ط).
٤ زاد في (م): ولأن ترك العمل للرياء قبل رياء.
١ في (م) الخير.

0 Comments