Peringatan ke – 12
Empat Ciri Orang Riya dan Tiga Benteng Amal yang Ikhlas
١٢ - وروي عن ابن عباس رضي الله عنهما عن رسول الله ﷺ أنه قال:
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau bersabda:
«لَمَّا خَلَقَ اللَّهُ تَعَالَى جَنَّةَ عَدْنٍ خَلَقَ فِيهَا مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ثُمَّ قَالَ لَهَا تَكَلَّمِى فَقَالَتْ قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَتْ إِنِّي حَرَامٌ عَلَى كُلِّ بَخِيلٍ وَمُنَافِقٍ وَمُرَاءٍ»١.
"Ketika Allah menciptakan surga 'Adn, Dia menciptakan di dalamnya apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terlintas dalam hati manusia. Kemudian Allah berfirman kepadanya, 'Berbicaralah kamu. Maka ia mengucapkan, 'Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, tiga kali, dan ia mengucapkan, 'Sesungguhnya aku haram bagi setiap orang yang kikir, munafik, dan riya (pamer).'"
وروي عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه قال: للمرائي أربع علامات: يكسل إذا كان وحده، وينشط إذا كان مع الناس، ويزيد في العمل إذا أثني عليه، وينقص إذا ذم به.
Diriwayatkan dan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhu bahwa ia berkata, "Orang yang riya itu memiliki empat ciri, yaitu: Malas beramal bila sendiri, rajin beramal bila bersama-sama dengan orang lain, meningkatkan amalnya bila dipuji, dan mengurangi amalnya bila dicela."
وروي عن شَقِيق بن إبراهيم الزاهد٢ أنه قال: يخلص٣ العمل ثلاثة أشياء:
Diriwayatkan dari Syaqiq bin Ibrahim Az-Zahid, bahwa ia berkata, "Bentengnya amal itu ada tiga yaitu:
أولها: أن يرى الإذن في العمل من الله تعالى، ليكسر به العجب.
1. Keyakinan bahwa amal itu dari Allah Ta'ala untuk menghilangkan ujub;
والثاني: أن يبتدىء برضا الله، ليكسر به الهوى.
2. Mengharapkanrida Allah untuk menghilangkan hawa nafsu;
والثالث: أن يبتغي ثواب العمل من الله تعالى، ليكسر الطمع والرياء، فهذه الأشياء تخلص الأعمال.
3. Mengharapkan pahala/balasan amalnya itu hanya dari Allah sehingga tidak menimbulkan tamak dan riya.
فأما قوله: يرى الإذن في العمل من الله تعالى؛ يعني: يعلم أن الله تعالى هو الذي وفقه لذلك العمل، فإنه إذا علم أنّ الله تعالى هو الذي وفقه فإنه يشتغل بالشكر، ولا يعجب بعمله.
Dengan ketiga hal ini, berarti ia ikhlas dalam beramal." Yang dimaksud dengan "amal itu dari Allah" yaitu bahwa Allah Ta'ala yang memberikan petunjuk dan kekuatan untuk mengerjakan amal itu.
فأما قوله: يبتدىء برضا الله تعالى؛ يعني ينظر في ذلك العمل فإن كان عملًا الله تعالى فيه رضا فإنه يعمله، وإن علم أنه ليس الله فيه رضا فلا يعمل بهوى نفسه، لأن الله تعالى قال: ﴿إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ﴾ [يوسف: ٥٣].
Yang dimaksud dengan "mengharapkan rida Allah" yaitu sebelum beramal hendaknya instrospeksi. Apabila amalnya itu bukan amal yang diridai Allah, maka hendaknya jangan dikerjakan, supaya ia tidak mengerjakan amal dengan menuruti hawa nafsu.
يعني تأمر بالسوء، وأما قوله: يبتغي ثواب العمل من الله تعالى؛ يعني يعمل خالص لوجه الله تعالى، ولا يبالي من مقالة الناس. كما روي عن بعض الحكماء أنه قال: ينبغي للعامل أن يأخذ الأدبَ في عمله من راعي الغنم. قيل: وكيف ذلك؟ قال: لأن الراعي إذا صلى عند غنمه، فإنه لا يطلب بصلاته محمدة غنمه. كذلك العامل ينبغي ألا يبالي مِن نَظَر الناس إليه، فيعمل الله تعالى عند الناس، وعند الخلاء بمنزلة واحدة، ولا يطلب محمدةَ الناس.
Sedangkan yang dimaksud dengan "mengharapkan pahala/balasan amalnya itu hanya dari Allah" yaitu hendaknya ia beramal ikhlas karena Allah Ta'ala semata dan tidak peduli dengan anggapan orang, sebagaimana diriwayatkan dari sebagian orang bijak, bahwa sebaiknya orang yang mengerjakan suatu amal mengambil contoh dari penggembala kambing. Kenapa demikian? Sebab, penggembala kambing itu tidak menginginkan pujian dari kambing. Demikian pula orang yang mengerjakan suatu amal, hendaknya ia tidak mempedulikan pandangan orang terha- dapnya, sehingga ia akan bersikap sama dalam beramal, baik ada orang lain maupun sendirian, dan ia tidak menginginkan pujian dari orang lain.
وقال بعض الحكماء: يحتاج العمل أربعة أشياء حتى يسلم:
Sebagian orang bijak yang lain mengatakan, bahwa amal perbuatan itu memerlukan empat hal, yaitu:
أولها: العلم قبل بدئه، لأن العمل لا يصلح إلا بالعلم، فإذا كان العمل بغير علم كان ما يفسده أكثر مما يصلحه.
1. Mempunyai ilmu, karena amal perbuatan itu tidak akan benar dan sempurna jika tanpa dilandasi dengan ilmu. Amal perbuatan yang tanpa ilmu akan lebih banyak salahnya daripada benarnya.
والثاني: النية في مبدئه؛ لأن العمل لا يصلح إلا بالنية،
2. Niat pada saat memulai pekerjaan, karena amal perbuatan itu tidak akan sah jika tanpa niat,
١ قال الهيثمي في مجمع الزوائد (۳۹۷/۱۰): رواه الطبراني في الأوسط والكبير، وأحد إسنادي الطبراني في الأوسط جيد.
٢ هو شقيق بن إبراهيم بن علي الأزديّ البَلْخي، أبو علي: زاهد صوفي، من مشاهير المشايخ في خرسان. ولعلّه أول من تكلم في علوم الأحوال (الصوفية) بكور خراسان. وكان من كبار المجاهدين. استشهد في غزوة كولان سنة (١٩٤هـ). (طبقات الصوفية (٦١-٦٦)، و(الحلية ٥٨/٨) و(تهذيب ابن عساكر ٣٢٧/٦).
٣ في الأصل و(ط): حصن، والمثبت من (م).

0 Comments